Jumat, 17 Januari 2014

BIODATA


Hai,...
Namaku adalah Nurul
Aku anak Magetan, tau nggak ?? Dimagetan juga banyak tempat wisata lo
salah satunya sarangan. Ini foto q saat pergi ke JT (jalan tembus) dengan teman2 ku.
JT tu letaknya d'atas sarangan, hawanya sejuuuuk banget. 





Saat ini aku kuliah di Akbid Muhammadiyah Madiun, n aku dah smester III. Banyak crita yg ada dalam pikiranku selama aku bersekolah di sana. Sebelum aku kuliah di sana aku skolah di SMK Farmasi Bina Farma Madiun. Jadi sedikit banyak udah membantu perkuliahan ku ini,.. :)

Foto saat di kampus n kelulusan dr Farmasi :







Aku juga punya keluarga yg sayang banget ma aku, walaupun kadang ada sdikit pertengkaran kecil. Tapi mereka begitu berharga :) 






Dan tak lupa dengan kawan2 Q yang slalu bersama ku di stiap waktu kala aku sedih maupun susah. Saling berbagi cerita, bersama2 :)









IMUNISASI

A.    Pengertian Imunisasi
Pengertian Imunisasi Dasar Imunisasi adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja memberikan kekebalan (imunisasi ) pada bayi atau anak sehingga terhindar dari penyakit (Supartini, Y, 2004). Imunisasi dasar adalah imunisasi yang diberikan untuk mendapatkan kekebalan awal secara aktif. Upaya imunisasi perlu terus ditingkatkan untuk mencapai tingkat kekebalan masyarakat yang tinggi sehingga PD3I (penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi) dapat dibasmi,  dieliminasi atau dikendalikan berdasarkan pada Kep. Menkes No. 1611/Menkes/SK/XI/ 2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi (Dinkes.Prov.Jatim, 2006).
Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak. Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan.

B.     Macam – macam Imunisasi
1.      BCG adalah vaksin bentuk beku kering yang mengandung mycobacterium bovis hidup yang sudah dilemahkan dari strain Paris no. 1173.P2.
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap TBC (Tuberculosa).
Komposisi:
Setelah dilarutkan dengan 4 ml pelarut, tiap ml vaksin mengandung:
*   Basil BCG hidup 0,375 mg
*   Natrium Glutamat 1,875 mg
*   Natrium klorida 9 mg
Umur   : 0 – 11 bln
Dosis   : 0,05 cc
Cara     : Intrakutan, lengan kanan
Jumlah suntikan : Satu kali
Penyimpanan dan Daluarsa:
Vaksin harus disimpan pada suhu 2o- 8oC. Lebih baik dalam freezer. Pengangkutan dalam keadaan dingin (2o- 8oC) dan terhindar dari sinar matahari langsung/tidak langsung
Daluarsa : 1 tahun
Vaksin yang sudah dilarutkan:
1.      Harus dipakai dalam waktu 3 jam, dan selama waktu tersebut, vaksin harus dalam keadaan dingin (2o-8oC, jangan disimpan di dalam freezer)
2.      Setelah 3 jam, bila ada sisa jangan dipakai lagi.
Kemasan:
Vaksin BCG kering beku ini tersedia dalam kemasan ampul dengan 4 ml pelarut dalam ampul.
Efek samping :
a.       Reaksi normal
Bakteri BCG ditubuh bekerja dengan sangat lambat. Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil merah di tempat penyuntikan dengan garis tengah 10 mm.
Setelah 2 – 3 minggu kemudian, pembengkakan menjadi abses kecil yang kemudian menjadi luka dengan garis tengah 10 mm, jangan berikan obat apapun pada luka dan biarkan terbuka atau bila akan ditutup gunakan kasa kering. Luka tersebut akan sembuh dan meninggalkan jaringan parut tengah 3-7 mm.
b.      Reaksi berat
Kadang terjadi peradangan setempat yang agak berat atau abses yang lebih dalam, kadang juga terjadi pembengkakan di kelenjar limfe pada leher / ketiak, hal ini disebabkan kesalahan penyuntikan yang terlalu dalam dan dosis yang terlalu tinggi.
c.       Reaksi yang lebih cepat
Jika anak sudah mempunyai kekebalan terhadap TBC, proses pembengkakan mungkin terjadi lebih cepat dari 2 minggu, ini berarti anak tersebut sudah mendapat imunisasi BCG atau kemungkinan anak tersebut telah terinfeksi BCG.

Kontraindikasi:
Adanya penyakit kulit yang berat / menahun seperti : eksim, furunkulosis dan sebagainya. Mereka yang sedang menderita TBC.
2.      DPT berupa toxoid difteri dan toxoid tetanus yang dimurnikan dan pertusis yang inaktifasi serta vaksin hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HbsAg murni dan bersifat non-infectious.
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis.
Komposisi:
Tiap ml mengandung:
*   Toksoid difteri yang dimurnikan 40 Lf.
*   Toksoid tetanus yang dimurnikan 15 Lf.
*   Pertussis yang diinaktivasi 24 OU
*   Aluminium fosfat 3 mg
*   Thimerosal 0,1 mg
Umur   : 2 – 11 bln
Dosis   : 0,05 cc
Cara     : IM / SC, jumlah suntikan : 3 x
Selang pemberian : Minimal 4 minggu
Penyimpanan dan Daluarsa:
Vaksin DTP harus disimpan dan ditransportasikan pada suhu 2oC-8oC tidak boleh dibekukan
Daluarsa : 2 tahun
Kemasan:
Vaksin tersedia dalam kemasan vial 10 dosis
Efek samping :
a.       Panas
Kebanyakan anak akan menderita panas pada sore hari setelah mendapat imunisasi DPT, tapi panas ini akan sembuh 1 – 2 hari. Anjurkan agar jangan dibungkus dengan baju tebal dan dimandikan dengan cara melap dengan air yang dicelupkan ke air hangat.
b.      Rasa sakit di daerah suntikan
Sebagian anak merasa nyeri, sakit, kemerahan, bengkak.
c.       Peradangan
Bila pembengkakan terjadi seminggu atau lebih, maka hal ini mungkin disebabkan peradangan, mungkin disebabkan oleh jarum suntik yang tidak steril karena : 
·         Tersentuh
·         Sebelum dipakai menyuntik jarum diletakkan diatas tempat yang tidak steril.
·         Sterilisasi kurang lama.
·         Pencemaran oleh kuman.
·         Kejang-kejang.
·         Reaksi yang jarang terjadi sebaliknya diketahui petugas reaksi disebabkan oleh komponen dari vaksin DPT.
Kontoindikasi:
Terdapat beberapa kontra indikasi yang berkaitan dengan suntikan pertama DTP. Gejala-gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala-gejala serius keabnormalan pada saraf merupakan kontraindikasi dari komponen pertussis. Imunisasi DTP kedua tidak boleh diberikan kepada anak yang mengalami gejala-gejala parah pada dosis pertama DTP. Komponen pertussis harus dihindarkan, dan hanya dengan diberi DT untuk meneruskan imunisasi ini. Untuk individu penderita HIV baik dengan gejala maupun tanpa gejala harus diberi imunisasi DTP sesuai dengan standar jadual tertentu.
3.      Polio adalah Vaksin Polio trivalent yang terdiri dari suspensi virus poliomyelitis tipe 1,2 dan 3 (strain sabin) yang sudah dilemahkan, dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa.
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap Poliomyelitis.
Komposisi:
Tiap dosis (2 tetes=0,1 ml) mengandung virus polio tidak kurang dari:
*   Tipe1 : 106,0 CCID50
*   Tipe2 : 105,0 CCID50
*   Tipe3 : 105,8 CCID50
Umur   : 0 – 11 bln
Dosis   : 2 tetes
Cara     : Meneteskan ke dalam mulut
Selang waktu : Berikan 4 x dengan jarak minimal 4 minggu.
Penyimpanan dan Daluarsa:
Jika disimpan pada suhu -20 oC atau lebih rendah, potensi vaksin sesuai yang tertera pada vial di atas sampai masa daluarsa. Tidak boleh disimpan pada suhu 2o-8 oC selama periode waktu lebih dari 6 bulan. Bila vaksin sudah dibuka dan disimpan pada suhu 2 o- 8 oC, potensi vaksin bertahan untuk selama 7 hari.
Daluarsa: tergantung dari penyimpanan:
-20 oC daluarsa     : 2 tahun
2o- 8 oC daluarsa  : 6 bulan
Kemasan:
Vaksin tersedia dalam kemasan 20 dosis yang masing-masing dilengkapi 1 buah dropper.
Efek samping :
Bila anak sedang diare ada kemungkinan vaksin tidak bekerja dengan baik karena ada gangguan penyerapan vaksin oleh usus akibat diare berat.
Kontraindikasi:
Pada individu yang menderita “immune deficiency”. Tidak ada efek yang berbahaya yang timbul akibat pemberian OPV  pada anak yang sedang sakit. Namun jika ada keraguan, misalnya sedang menderita diare, maka dosis ulangan dapat  diberikan setelah sembuh.
4.      Hepatitis B merupakan vaksin DNA rekombinan yang berasal dari HbsAg yang diproduksi melalui teknologi DNA rekombinan pada sel ragi.
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus Hepatitis B. Tidak dapat mencegah infeksi virus lain seperti virus Hepatitis A atau C atau yang diketahui dapat menginfeksi hati.
Komposisi:
Setiap 1 ml vaksin mengandung HBsAg 20 mcg yang teradsorbsi pada Aluminium hidroksida 0,5 mg. Setiap 0,5 ml vaksin mengandung HBsAg 10 mcg yang teradsorbsi pada Aluminium hidrosida 0,25 mg. Seluruh formulasi mengandung Thimerosal 0,01 w/v% sebagai pengawet.
Umur   : Mulai umur 0 bulan
Dosis   : 0, 5 cc / pemberian
Cara     : Suntikan IM pada bagian luar
Jumlah suntikan     : 3 x
Selang pemberian   : 3 dosis dengan jarak suntikan 1 bulan dan 5 bulan.
Penyimpanan dan Daluarsa:
Vaksin harus disimpan pada suhu 2o- 8oC.
Daluarsa : 26 bulan
Peringatan dan Perhatian:
·         Efek antigen terhadap janin belum diketahui dan karena itu vaksinasi terhadap wanita hamil tidak direkomendasikan, kecuali pada keadaan resiko tinggi.
·         Epinephrine sebaiknya selalu tersedia untuk penanganan reaksi anafilaktik
·         Mengingat masa inkubasi virus Hepatisis B panjang, ada kemungkinan terjadi infeksi yang tidak diketahui pada saat vaksinasi.
·         Jangan diberikan pada daerah gluteal atau intra-dermal, karena tidak akan memberikan respon imun yang optimal, dan jangan diberikan secara intravena.
·         Pada pasien dialysis dan orang yang mempunyai kelemahan system imun, respon antibody mungkin tidak cukup setelah vaksinasi dasar, karena itu perlu diberikan vaksinasi ulang.
Kemasan: Vaksin tersedia dalam kemasan vial multi dosis 2,5 ml.
Efek samping : tidak ada
Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap komponen vaksin. Sama halnya seperti vaksin-vaksin lain, vaksin Hepatisis B Rekombinan tidak boleh diberikan kepada penderita infeksi berat yang disertai kejang. Tetapi vaksinasi dapat diberikan kepada penderita infeksi ringan.
5.      Campak merupakan  vaksin virus hidup yang dilemahkan. Vaksin ini berbentuk vaksin beku kering yang harus dilarutkan dengan aquabidest steril.
Indikasi:
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit Campak.
Komposisi:
Tiap dosis vaksin yang sudah dilarutkan mengandung:
*   Virus Campak ≥ 1.000 CCID50
*   Kanamycin sulfat ≤ 100 mcg
*   Erithromycin ≤ 30 mcg
Umur   : 9 bln.
Dosis   : 0, 5 cc
Cara     : Suntikan secara IM di lengan kiri atas.
Jumlah suntikan :
1 x dapat diberikan bersamaan dengan pemberian vaksin lain tapi tidak dicampur dalam 1 semprit.
Penyimpanan dan Daluarsa:
Vaksin campak beku kering harus disimpan pada suhu di bawah 8 oC (lebih baik kalau di bawah 0 oC) sampai ketika vaksin akan digunakan. Tingkat stabilitas akan lebih baik jika vaksin (bukan pelarut) disimpan pada suhu -20 oC. Pelarut tidak boleh dibekukan tetapi disimpan pada kondisi sejuk sampai dengan ketika akan digunakan. Vaksin harus terlindung dari sinar matahari.
Daluarsa : 2 tahun
Kemasan:
Vaksin tersedia dalam kemasan vial 10 dosis + 5 ml pelarut dalam ampul.
Efek samping vaksin campak :
Panas dan kemerahan. Anak-anak mungkin panas selama 1 – 3 hari setelah 1 minggu penyuntikan, kadang disertai kemerahan seperti penderita campak ringan.
Kontraindikasi:
Individu yang mengidap penyakit immuno deficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respon imun karena leukemia, lymphoma.  ( Dinkes Prov Jatim, 2005).

6.      Hib
Penyakit Hib disebabkan bakteri Haemophilus Influenza type B (Hib). Hib biasa menyerang anak di bawah 5 tahun.
Anak-anak dapat tertular bakteri Hib dari anak lain yang sakit atau orang dewasa yang membawa bakteri Hib, namun tidak sakit. Kuman tertular melalui kontak dengan penderita Hib. Jika bakteri Hib berada di rongga hidung atau tenggorokan, mungkin tidak menyebabkan sakit. Namun bakteri Hib dapat masuk ke paru-paru dan peredaran darah dan menyebabkan penyakit serius.
Sebelum ditemukannya vaksin Hib, penyakit Hib merupakan penyebab utama radang selaput otak (meningitis) pada anak di bawah 5 tahun. Meningitis menyebabkan kerusakan otak dan medulla spinalis. Hib juga menyebabkan pneumonia, infeksi berat di tenggorokan, infeksi pada persendian, tulang dan selaput jantung, bahkan kematian.
Anak-anak perlu mendapatkan vaksinasi Hib pada usia: 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 12-15 bulan.
Anak di atas 5 tahun tidak perlu mendapatkan vaksin Hib.  Namun dalam kondisi tertentu, vaksinasi Hib perlu diberikan, seperti penderita sickle cell, HIV, pengangkatan limpa, transplantasi sumsum tulang atau penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi.
Vaksin Hib beresiko menimbulkan efek samping ringan.  Berikut efek samping vaksinasi Hib yang pernah dilaporkan: merah dan bengkak di tempat penyuntikan dan demam tinggi.  Keluhan tersebut biasanya hilang sendiri dalam 2-3 hari.

Jadwal Pemberian Imunisasi 
Vaksin
Pemberian Imunisasi
Selang Waktu
Umur
BCG
1 x
0 – 11 bulan
DPT
3 x (1, 2, 3)
4 mgg
2 – 11 bulan
Polio
4x (1, 2, 3, 4)
4 mgg
0 – 11 bulan
Campak
1 x
9 – 11 bulan
Hep. B
3 x (1, 2, 3)
4 mgg
0 – 11 bulan
Hib
4x (1, 2, 3, 4)
4 mgg
2 - 15 bulan



Sumber:

http://www.imunisasi.net/Hib.html